Sukses Melakukan Remote Projects
- xthreem xthreem
- 2 days ago
- 2 min read
Remote project dalam arsitektur bukan pendekatan eksperimental bagi kami. Metode ini sudah digunakan dan diuji langsung pada beberapa proyek, termasuk Saga Beauty Abepura dan Saga Bakery, di mana seluruh proses desain dan koordinasi dilakukan tanpa kehadiran rutin di lokasi.
SAGA BAKERY
Pengalaman ini menunjukkan bahwa remote project bisa berjalan efektif selama sistem teknisnya dirancang sejak awal, bukan disesuaikan di tengah jalan.
Sejak awal proyek, ruang lingkup kerja didefinisikan secara rinci. Deliverables ditetapkan secara spesifik, mulai dari gambar desain, gambar kerja, detail teknis, hingga kebutuhan koordinasi lapangan. Pada proyek seperti Saga Beauty Abepura dan Saga Bakery, kejelasan ini menjadi krusial karena seluruh keputusan desain harus dapat dipahami tanpa penjelasan tatap muka langsung.
Pengumpulan data lapangan dilakukan melalui dokumentasi terstruktur. Tim lapangan mengirimkan foto dan video dengan sudut yang telah ditentukan, lengkap dengan referensi ukuran dan catatan kondisi eksisting. Data ini menjadi dasar seluruh proses desain. Kesalahan pada tahap ini akan berdampak langsung pada ketepatan gambar kerja, sehingga proses verifikasi dilakukan berulang sebelum desain dikembangkan lebih jauh.
1. Samakan Persepsi Sejak Awal, Bukan di Tengah Jalan
Masalah terbesar dalam remote project bukan jarak, tapi asumsi.
Klien sering merasa sudah menjelaskan, sementara desainer merasa sudah mengerti.
Sukses remote project selalu dimulai dengan penyamaan ekspektasi: ruang lingkup kerja, output yang diterima, tahapan desain, serta batas revisi.
Semua harus tertulis, bukan hanya dibicarakan.
Remote project yang rapi hampir selalu punya brief yang jelas dan disepakati bersama.
2. Dokumentasi Menggantikan Kehadiran Fisik
Karena tidak selalu berada di lokasi, dokumentasi menjadi mata dan telinga utama.
Foto, video, dan catatan lapangan harus spesifik, konsisten, dan terstruktur.
Bukan sekadar “kondisi lapangan”, tapi detail yang relevan dengan desain dan konstruksi.
Desainer yang sukses mengerjakan remote project tidak menunggu informasi datang, tapi aktif meminta data yang tepat.
3. Komunikasi Rutin Lebih Penting dari Komunikasi Panjang
Dalam remote project, komunikasi tidak harus lama, tapi harus rutin.
Update singkat yang konsisten jauh lebih efektif daripada satu diskusi panjang yang jarang.
Meeting online, voice note terarah, dan rangkuman tertulis membantu semua pihak tetap berada di jalur yang sama.
Setiap keputusan penting sebaiknya selalu ditutup dengan kesimpulan tertulis agar tidak berubah menjadi tafsir.
4. Visual Harus Lebih Jelas dari Kata-kata
Remote project menuntut visual yang komunikatif.
Denah, potongan, diagram, dan 3D bukan sekadar pelengkap, tapi alat utama komunikasi.
Semakin jauh jarak, semakin penting visual yang jelas dan tidak ambigu.
Gambar yang baik mengurangi pertanyaan, mempercepat keputusan, dan meminimalkan revisi yang tidak perlu.
5. Sistem Kerja Mengalahkan Fleksibilitas
Remote project terlihat fleksibel, tapi justru membutuhkan sistem yang disiplin.
Penamaan file, versi gambar, timeline, dan alur approval harus konsisten sejak awal.
Tanpa sistem, fleksibilitas berubah menjadi kekacauan. Remote project yang sukses bukan yang paling santai, tapi yang paling terorganisir.
Remote project bukan solusi instan, tapi kemampuan yang dibangun.
Ketika sistem kerja, komunikasi, dan dokumentasi berjalan rapi, jarak tidak lagi menjadi masalah.
Pengalaman mengerjakan Saga Beauty Abepura dan Saga Bakery memperkuat satu hal: remote project tidak mengurangi kualitas desain selama kontrol teknis tetap dijaga. Tantangannya bukan pada jarak, tetapi pada bagaimana data, gambar, dan keputusan dikelola secara sistematis.





Comments